Namanya Nina, terlahir sebagai muslimah. Ayahnya melafalkan adzan ketika Nina lahir. Namun, perjalanan keimananya sungguh tidak mudah. Nina tidak dibesarkan dilingkungan masyarakat yang islami. Lingkungannya memang perulal/campur. Ada yang beragama keristen, katolik, buddah, hindu, bahkan konghucu. Diusia lima belas tahun Nina memiliki teman akrab seorang nasrani. Dilingkunganya tidak ada kegiatan taman pendidikan Al-Qur’an. Namun ibunya mengajari membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, mengenalkan islam kepada Nina , mengajari shalat lima waktu, dan mengajarkan berpuasa. Sayangnya Nina tumbuh besar menjadi gadis yang asal-asalan dalam beribadah. Kadang sehari penuh bisa shalat lima waktu, kadang hanya magrib saja, kadang hanya subuh saja, atau tidak sama sekali. Ibunya sebenarnya cukup ketat dan galak dalam urusan ibadah. Tetapi saat ibunya tidak ada dirumah atau tidak meliatnya, shalat pun dilalaikan Nina . Takut kepada Allah menjadi nomer sekian bagi Nina, s...