Dewi cantik siang malam hanya untuk
suaminya, permaisuri yang disanjung suaminya dalam kebahgiaan maupun kesedihan,
Dewi permata mutiara dalam kerang yang terjaga dalam cangkangnya.
Dewi mempunyai tanggung jawab yang
besar untuk mendapatkan semua itu, tanggung jawab untuk memberi perhatian dan
kasih sayang pada seorang laki-laki ( suaminya ), yang dengan gagah berani
memanggul beban-bebanya.
Awalnya Dewi hanyalah istri yang egois, sering sekali
perkerjaan rumah terbengkalai karena tidak diurus olehnya, ketika suaminya
pulang kerja dialah yang membereskan semuahnya, sungguh suami yang sabar, Dewi
adalah perempuan sosialita kesehariannya hanya sambil merumpi kesana kemari tidak
jelas arah tujuanya, lebih sibuk dengan kehidupan luar rumah, sedangkan rumah
berantakan tak tertara ibarat kapal pecah.
Allah menegurnya ketika ada teman kantor suaminya yang lebih
memperhatikannya, sebenarnya Dewi mengenal perempuan itu sebagai
sahabatnya, tapi ketika perhatiannya tampak berlebihan, api cemburu tidak bisa
dimatikan oleh Dewi, pakkk dampratan tangan Dewi penuh kemarahan
pada pipi perempuan itu.
“heh, kamu enggak tau itu suamiku ?” kata Dewi dengan
keras.
“pernikahan kamu dengannya hanya formalitas belaka kan ?”
perempuan itu balik bertanya.
“apa maksudmu ?” tanya Dewi penasaran.
“suamimu itu butuh perhatianmu yang lebih, dia akan rapuh dan
langkahnya tak akan karuan jika kau beiarkan begitu saja, dia akan terkapan
dijalanan, di warung-warung kopi dan klub-klub yang selalu gelap gulita, aku
hanya memberinya peluang agar tidak tersesat di sana”, kata perempuan itu
dengan keras kepda Dewi.
Ucapan permpuan itu memberi tamparan keras kepada Dewi,
ya, memang laki-laki gemar diberi perhatian akan hal-hal yang remeh yang
berkaitan dengan dirinya, laki-laki amat senang bila istrinya mengenaka kancing
bajunya, mengelap sepatunya, memotong kukunya, membenahi rumahnya, memasak untuknya dan sebagiannya.
“aku tidak perlu mengajarimu bagaimana menjadi seorang istri,
bukan ?” kata perempuan itu lagi. “kau tahu, lelaki itu suka dilayani seperti
raja oleh istrinya, dia suka istrinya mengelap keringatnya ketika pulang kerja,
menyediakan keperluan untuk mandi, dan berdiri ketika dia hendak pergi dan
kembali, dan kau tidak pernah perhatian pada bagian kecil-kecil itu, lalu
tahukah engkau bahwa dia tidak pernah merasakan itu”?
Dewi diam tampa kata, dalam benaknya
kenapa aku yang dimarahinya ?, padahal aku tadi bermaksud memarahinya.
“ketika kamu menjadi istri dari seorang laki-laki, maka kamu
tidak perlu enggan untuk melakukan itu,” katanya lagi.
“berilah dia perhatianmu, singkirkan kesibukan sebagai alasan
untuk tidak memperhatikannya, singkirkan egomu agar kamu mampu melakukannya.”
Dewi benar-benar merasa dikuliti,
semua kesalahannya kepada suaminya dibongkar semua, Dewi tidak bisa
menjawab apa-apa, membiarkan dia menumpahkan dosanya.
“lakukan saja, semua itu tidak ada ruginya,” kata dia lagi.
“perhatianmu itu akan menjaga suami dari keterlantaraan
seperti yang aku sebut tadi, suamimu akan bangga karena menjadi seoran lelaki
yang telah menikahimu, suamimu akan merasa aman dan nyaman berada disampingmu”.
Setelah percekcokan dengannya, Dewi baru sadar, dia tidak
sedang jatuh cinta kepada suaminya, dia sedang membantunya untuk mengingat
kesalahan-kesalahannya kepada suaminya, dan dia juga sedang membantunya untuk
menjadi istri yang sahlihah.
Ya, Dewi tahu dan pernah mendengar dari suatu ceramah,
bawasannya, Rasulullah Saw, pernah menjanjikan sesuatu bagi seorang istri yang
perhatian kepada suaminya, seorang istri yang meminyaki rambut dan janggut
suaminya serta memotong kumisnya dan mengerat kukunya, maka Allah akan
memberikan minuman air dari sungai-sungai disurga, diringankan dari sakaratul
maut, kuburannya akan didapati menjadi taman surga, Allah akan mencatatkannya bebas
dari api neraka.
Masya Allah, betapa mulia perempuan-perempuan yang mau
memberikan perhatian-perhatianya kepada suaminya, jika Dewi menjadi
istri yang seperti itu maka amalan itu akan menjadi jembatannya untuk berada
disurga Allah Swt, dan semua akan menjadi indah.
Sejak saat itu Dewi ingin menjadi istri yang salihah
bagi suaminya, tidak mempedulikan lagi egonya, lebih sibuk dirumah dan menunggu
suaminya pualng dari bekerja.
Jika Dewi sedang memasak dan suaminya memanggilnya maka
akan segera memenuhi panggilnnya, segera mematikan api dan menunaikan
permintaanya.
Dewi selalu berias diri bukan untuk
orang lain, bukan untuk gaya-gayaan, berias untuk suaminya, karena Dewi
adalah bidadari untuk suaminya, mata suaminya akan kecewa dan hatinya resah
jika tampil dengan muka semrawut dan kusut, jika tampil rapi, dan cantik maka
akan mendapatkan ucapan-ucapan manis dari suaminya.
Setelah melakukan itu beberapa waktu Dewi baru sadar,
bahwa bagi seorang suami, rumah adalah surga, dirumah dia ingin merasakan
ketenangan pikiran dan kenyamanan, jadi wajar jika harus memelihara susana
rumah dan berperan menjadi bidadari rumah.
Dewi meningkatkan kemampuan dirinya
dan harus lebih kereatif dalam soal memasak, menghias rumah, mengurus diri, dan
melayaninya ( suaminya ) supaya suaminya betah dan berlama-lama dirumah, Dewi
juga meningkatkan bahasa dalam berkata, bijak dalam bertindak dan menjadi
patner dalam diskusi.
Satu dosa dulu yang sering diumbar pada teman-temannya soal
tempat tidur, tempat tidur adalah rahasia suami istri, mulai saat ini, Dewi akan
menjaga setiap apa yang ada terjadi disana, tak akan dikeluarkan, sehingga
orang lain mengetahunya, apa yang disampaikan oleh suaminya ditempat tidur
adalah rahasia yang wajib dijaga.
Itu artinya kekurangan dan keburukan suaminya akan disimpan
dan dijaga ditempat yang rapat, Dewi tidak akan lagi membiarkan orang
lain mencoba membukanya, apalagi akan membiarkan dirinya menyampaikan kepada
orang lain.
Menjadi istri salihah bukanlah hal yang mudah bagi Dewi,
namun sebab ketakwaan kepada Allah, Dewi mampu melewati rintangan dan
godaan, teman-teman merumpi dulu masih sering menghubungi dan mengajaknya
bergabung dengan kegiatan mereka, namun Dewi sudah tidak mau lagi
membiarkan waktunya terbuang sia-sia hanya untuk kesibukan yang tidak ada
artinya, Dewi memilih menjadi istri salihah bagi suaminya.
Comments
Post a Comment